Tauhid dan Bentuk-Bentuk Kemusyrikan Kontemporer

5/28/20262 min read

Assalam warahmatullahi wabarakatuh,

Salam kenal dan salam santai dari saya, Kiai medsos yang ngopi-ngopi sambil nulis ini. Mohon maaf jika ada kata yang kurang beres, namanya juga manusia — kadang niatnya baik, eh malah ngetik salah pencet. Hehe.

---

Pengenalan tentang Tauhid dan Kemusyrikan

Para sedulur, simbah-simbah, mbak-mbak, mas-mas, dan juga almarhum jempol yang sudah lecet karena scroll medsai — mari kita guyon bareng tapi tetap di jalan yang bener.

Jaman sekarang, syirik itu sudah gaul. Iya, gaul! Dia nggak pakai patung batu lagi kayak jaman nenek moyang Lutung Kasarung. Nggak ada lagi kuil megah tempat sujud ke berhala. Sekarang bentuknya halus, canggih, kayak kamuflase ala Spesialis Oplosan. Dia menyusup ke ideologi, ke geng-gengan kelompok, ke sistem kekuasaan, bahkan ke hawa nafsu kita sendiri. Nafsu yang minta disembah bulat-bulat — alias “sak karepku dele, raimu totole.”

Contohnya gampang: pernah nggak, kamu merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri, paling masuk surga sendiri? Nah, itu namanya syirik ala kadarnya, tapi kadarnya sakti.

Sejarah dan Perjalanan Spiritual Umat Manusia

Saya jadi ingat buku bagus punya Mbak Karen Armstrong, judulnya Sejarah Tuhan. Katanya, nenek moyang kita yang jadul-jadul itu sudah punya firasat soal “Tuhan Yang Maha Tinggi”, lalu lewat Zaman Poros, sampai akhirnya utusan terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, diutus membawa terang.

Apakah kita setuju?

Ada yang setuju, ada yang kagak — biasa saja, kan beda pendapat itu lumrah, asal jangan beda harga di kasir. Tapi coba kita renungkan: kalau kita sepakat bahwa Kebenaran (dengan huruf K kapital, gaya buku gramedia) itu sumbernya satu, ya kesimpulan Mbak Amstrong tadi nggak ngaco-ngaco amat, kan? Logis, tho?

Nah, tema ini makin diperluas dan diperdalam oleh sebuah buku baru yang baunya masih harum kemenyan Idul Adha — baru kemarin selesai sholat ied, langsung rilis. Judulnya:

“Tauhid Against Modern Idolatry: The Search for Human Unity”

Bentuk-Bentuk Kemusyrikan Kontemporer

Buku ini nggak cuma ngoceh soal “Laa ilaha illallah” sebagai kalimat puitis. Lebih dari itu, kata tauhid di sini difungsikan sebagai kekuatan pemersatu umat manusia. Serius. Tauhid diajak demo melawan berhala-berhala baru:

- Supremasi ras (yang bikin orang sombong, padahal warna kulit cuma beda faktor UV).

- Nasionalisme kebangetan (cinta tanah air boleh, tapi sampai nyembah bendera ya kepleset).

- Konsumerisme (beli barang terus, lupa kalau dompet nangis, hati jadi kering).

- Teknologi yang dijadiin juru selamat (HP mati aja panik, apalagi kalimat "Network unavailable" langsung shalat sunah darurat).

- Politik diagung-agungkan (sampai musuh politik dianggap setan, padahal sama-sama punya utang sembako).

- Penyembahan pasar (yang kalau turun dikit, hati ikut mbledos).

Semua itu, diam-diam, ngikis akhlak kita, bikin hati pecah berkeping-keping, dan meluaskan jurang ketidakadilan.

Menyalakan Lampu

Tapi tenang... Tauhid datang, bukan buat marah-marah, tapi buat nyalakan lampu. Tauhid itu cahaya penyatu realitas yang carut-marut. Bikin moral jernih, jiwa seimbang, dan persaudaraan hangat kayak wedang jahe.

Buku ini cocok buat Muslim, juga non-Muslim. Karena yang lagi musuhan sama berhala palsu itu semua orang — kecuali berhalanya gorengan masih hangat, itu mah beda kasus.

---

Link bukunya, Bro (cekidot):

https://www.amazon.com/dp/B0H346WM88

Mari kita renungkan bareng-bareng — jangan cuma di-save dulu, ntar lupa.

Penutup gaya NU sejati:

Yaa ayyuhalladziina aamanu, jangan sampai hati kita kecanduan berhala jaman now. Kalau nggak sadar, bisa-bisa kita sujud ke hape lebih khusyuk daripada sujud ke Allah. Na’udzubillah.

Salam santai,

Kiai Gaul (yang siap dipelototi jika salah).

---

Bersama kita kuat, asal nggak bersatu dalam maksiat. Hehe.

---

Bermula

---

Kontak

Hubungi kami untuk berdiskusi lebih dalam

Email

Telepon

halo@bermula.id

+628123456789

© 2025. All rights reserved.