Menghadirkan Kesadaran dalam Salat: Menyadari Perjalanan Spiritual

6/4/20263 min read

Assalamu’alaikum, jamaah sekalian yang semoga hatinya lagi tidak kemana-mana.

Begini, nak. Salat itu sebenarnya perjalanan. Perjalanan hati dan pikiran. Tapi jujur saja, berapa banyak di antara kita yang rajin Salat, tapi pikirannya malah jalan-jalan ke mana-mana? Misalnya, pas lagi sujud, tiba-tiba kepikiran, “Aduh, cicilan rumah bulan depan naik lagi.” Pas lagi bangun dari rukuk, malah ingat, “Eh, tadi pesan WA dari bos belum dibalas.” Pas lagi tasyahud, dadakan kelingan, “Esok beli beras dulu, stok habis.”

Hehehe… itu namanya Salatnya badan, tapi hati lagi nyetir gojek. Umum banget, jamaah. Bahkan para kiai pun kadang ngakuin hal yang sama. Namanya juga godaan setan. Tapi jangan dibiasakan, nanti Salat kita cuma jadi olahraga ringan plus gerak badan.

Dua Jabatan yang Melekat

Coba ingat, kita ini punya dua kartu identitas. Pertama, kita ini hamba. Artinya, kita punya Bos Besar yang namanya Allah. Kedua, kita ini khalifah. Artinya, kita ini wakil-Nya di bumi. Jadi, pas sujud, ingatlah: “Aku ini hamba, nggak punya kuasa apa-apa.” Pas bangun dari sujud, ingatlah: “Aku ini wakil Tuhan, tanggung jawab ngurus bumi, ngurus sesama.”

Nah, lucunya, kadang ada orang yang sujudnya lama banget tapi pas bangun malah jadi tiran di rumah. Atau sebaliknya, sujudnya cepat-cepat tapi pas di pasar jadi orang paling dermawan. Seimbang, dong, jamaah. Jangan Salatnya khusyuk, tapi omongannya ke tetangga pedes.

Dua Panggilan dalam Hidup

Setiap kita itu sebenarnya lagi diadu dua panggilan telepon. Panggilan pertama: “Alastu bi rabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?). Itu panggilan dari zaman sebelum kita lahir. Panggilan kedua: “Irji’ī ilā rabbiki” (Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati tenang). Itu panggilan pas kita mau ‘pulang’ nanti.

Nah, Salat itu adalah simulasi kecil antara dua panggilan itu. Saat kita mulai Salat, kita meninggalkan sebentar urusan dunia. Saat sujud, kita ‘pulang’ rasa ke hadirat-Nya. Setelah salam, kita kembali ke dunia sebagai khalifah yang segar. Jadi jangan heran, kalau habis Salat kita harusnya lebih enjoy hidup, bukan malah tambah stres.

Coba Renungkan, dengan gaya santai:

· Apakah Salatmu bikin hati tenang, atau malah tambah mumet mikirin utang?

· Apakah Salatmu mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar, atau malah selesai Salat langsung nyinyir sama tetangga?

· Apakah Salatmu terasa seperti ‘ngobrol’ sama Tuhan, atau seperti memutar kaset bekas?

Kalau Salat masih terasa seperti gerakan mekanis tanpa rasa, itu tandanya kita perlu servis lagi. Kayak motor, kalau mogok di tengah jalan, ya perlu dibawa ke bengkel. Bengkelnya bukan bengkel motor, tapi bengkel hati. Bawa ke orang pinter, bawa ke kiai, atau baca-baca buku Salat yang lucu (seperti tulisan ini, hehe).

Pesan Santai dari Kiai:

Jamaah, jangan pernah berhenti berusaha. Salat itu latihan. Latihan hadir, latihan sadar. Awalnya mungkin pikiran masih suka kabur kayak anak kecil dikejar ayam. Tapi lama-lama, kalau sering dilatih, hati akan belajar untuk fokus.

Dan yang paling penting: jangan menilai Salat orang lain. Urus saja Salat kita sendiri. Karena setiap orang punya ‘jalan-jalannya hati’ masing-masing. Ada yang sujudnya lama karena mikirin dosa, ada yang sujudnya sebentar karena takut riya. Yang jelas, sama-sama belajar.

Penutup dengan Senyum:

Yuk, mulai sekarang kita coba: saat takbiratul ihram, hayati betul bahwa kita sedang ‘pamitan’ sebentar dari dunia. Saat membaca Al-Fatihah, rasakan kita sedang minta petunjuk. Saat sujud, rasakan posisi terendah itu mengajarkan kerendahan hati. Saat salam, sadari bahwa kita kembali ke masyarakat dengan energi baru.

Nggak perlu langsung jadi wali Allah. Yang penting, ada kemajuan. Dulu pikirannya ngeluyur ke tujuh negara, sekarang cuma ke dua desa. Itu sudah bagus. Dulu habis Salat langsung marah-marah, sekarang paling cuma sebel-sebel dikit. Alhamdulillah, itu namanya progres.

Ngomong-ngomong, sekadar informasi buat antum yang penasaran:

Antum mau obrolan yang materinya lebih luas, lebih dalam, dan lebih menyeluruh mengenai topik ini? Gampang, baca aja ini: “ṢALĀH: The Return to Presence (2026: KDP-Amazon)”. Ini liknya, tinggal klik aja.

Ibaratnya, yang saya tulis ini cocolan tempe, itu lauk utamanya. Tapi ya nggak wajib beli, kok. Yang penting Salat kita makin hadir, makin bernyawa. Selesai.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

---

Bermula

---

Kontak

Hubungi kami untuk berdiskusi lebih dalam

Email

Telepon

halo@bermula.id

+628123456789

© 2025. All rights reserved.