Digital Capitalism: Kita Dikira Pakai HP, Padahal HP yang Lagi “Memakai” Kita
5/17/20261 min read


Revolusi Kapitalisme di Era Digital
Diilhami oleh Byung-Chul Han, seorang filsuf kontemporer, postingan terdahulu kita ngobrol ini: "Dulu Dijajah Mandor, Sekarang Dijajah Diri Sendiri".
Dia mlanjutkan kritiknya lebih serem lagi. Katanya, kapitalisme zaman sekarang tidak lagi cuma jual barang. Sekarang yang dijual itu perhatian kita. Waktu kita. Emosi kita. Bahkan kesepian kita ikut dimonetisasi. Hahaha.
Algoritma: Intip Kebiasaan Manusia
Dulu pedagang keliling teriak: “Baksooo!”
Sekarang algoritma lebih canggih. Dia tidak teriak. Dia mengintip diam-diam isi kepala kita 😅
Baru ngomong: “Kayaknya enak kopi.”
Tiga menit kemudian muncul iklan: “Kopi Arabica Diskon 70%.”
Astaghfirullah… Ini HP apa cenayang? 🤣
Han bilang, manusia digital akhirnya berubah jadi “data.” Bukan lagi pribadi yang utuh.
Semua dihitung: berapa like, berapa views, berapa followers, berapa engagement.
Akhirnya manusia modern takut sepi. Takut tidak terlihat. Takut tidak relevan.
Maka tiap makan difoto. Tiap jalan direkam. Tiap sedih dijadikan story.
Kehilangan Kemampuan untuk Diam
Kadang yang menikmati hidup tinggal kamera. Orangnya sendiri sibuk editing 😭
Yang lebih sedih lagi: kita kehilangan kemampuan untuk diam.
Padahal dalam tradisi para ulama, diam itu bukan kosong. Diam itu ruang turunnya hikmah.
Memudarnya Kedalaman dalam Kehidupan
Imam Ghazali dulu tidak butuh reels untuk merenung. Syekh Abdul Qadir tidak butuh personal branding untuk dicintai umat.
Karena kedalaman lahir dari keheningan, bukan dari notifikasi.
Narasi dalam Kehidupan Modern
Han bilang masyarakat digital membuat kita miskin “narasi.” Kita banjir informasi, tapi lapar makna.
Scroll terus. Tahu banyak hal. Tapi hati tetap bingung mau ke mana.
Akhirnya hidup terasa seperti timeline: cepat, ramai, tapi mudah lupa.
Mungkin itu sebabnya orang sekarang sulit khusyuk.
Baru takbir: “Allahu Akbar…”
Tiba-tiba kepikiran: “Story tadi sudah di-like dia belum ya?” 😭
Wallahu a‘lam.
#KapitalismeDigital, #DijajahDiriSendiri, #ByungChulHan, #KrisisPerhatian, #FilsafatZamanNow