Harga Kekuasaan: Perang dan Pengikisan Kemanusiaan

4/8/20262 min read

Mari kita jujur sejenak.

Yang terjadi hari ini
bukan sekadar perang.
Ia adalah kuasa yang menegaskan diri—
dengan bahasa keamanan.

Negara berbicara tentang stabilitas,
tentang ancaman,
tentang hak untuk bertahan.

Namun di balik semua itu,
ada sesuatu yang jauh lebih nyata:

manusia.

Bukan abstraksi—
melainkan keluarga,
anak-anak,
kehidupan yang terhenti tanpa pilihan.

Sebelum strategi, sebelum geopolitik,
ada mereka yang tidak memilih perang ini—
namun menanggung seluruh bebannya.

Rumah runtuh dalam hitungan detik.
Nama berubah menjadi angka.
Duka menjadi kebiasaan.

Tidak ada doktrin keamanan
yang mampu menjelaskan ini.
Tidak ada justifikasi
yang mampu menanggung beratnya.

Ini bukan “dampak samping”.
Ini adalah pusatnya.

Namun kuasa terus berbicara
seolah penderitaan adalah hal sekunder.

Yang kita saksikan
bukan hanya benturan militer,
tetapi kegagalan yang lebih dalam:

terpisahnya kekuasaan dari etika.

Teknologi berkembang.
Presisi meningkat.
Namun jarak moral semakin melebar.

Ketakutan, dalam lanskap ini,
bukan sesuatu yang kebetulan.

Ia diproduksi,
diperbesar,
dan digerakkan—

untuk membenarkan tindakan
yang seharusnya tak dapat dibenarkan.

Al-Qur’an telah memberi isyarat
yang kini terasa begitu dekat:

“…makhluk yang merusak dan menumpahkan darah…”
(QS 2:30)

Bukan sebagai vonis,
melainkan peringatan.

Bahwa manusia,
ketika lepas dari tuntunan nilai,
dapat menormalisasi kehancuran
sambil merasa benar.

Karena itu, masalahnya bukan sekadar
siapa yang benar atau salah.

Masalahnya adalah:
apakah kekuasaan
masih mengenal batasnya.

Ketika tidak,
kekerasan tidak lagi berhenti—
ia berputar.

Dari satu tangan ke tangan lain.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apa yang bisa memutus lingkaran ini?

Bukan kekuatan tambahan.
Bukan narasi yang lebih rapi.

Melainkan kembali
pada rujukan moral yang lebih tinggi—
norma langit
yang tidak tunduk pada ketakutan
atau kepentingan.

Tanpa itu,
damai hanyalah jeda.

Al-Qur’an menyebut hukum
yang tak bisa dilobi:

"Jika kamu berbuat baik, maka itu untuk dirimu;
dan jika kamu berbuat buruk, maka itu kembali kepadamu."

(QS Al-Isra: 7)

Apa yang dilakukan kepada orang lain
tidak pernah hilang.

Ia kembali—
sering kali dalam bentuk yang lebih keras.

Ini bukan hanya tentang satu kawasan.

Ini tentang dunia seperti apa
yang sedang kita bentuk:

dunia yang memajukan senjata,
namun mengabaikan nurani.

Dan mungkin perubahan paling berbahaya
adalah ini:

kita mulai terbiasa.

Kehancuran tidak lagi mengguncang.
Penderitaan tidak lagi menghentikan langkah.

Dan ketika itu terjadi,
yang hilang bukan hanya di luar—

tetapi di dalam diri kita.

Di sinilah posisi kita.

Bukan sekadar penonton,
tetapi pelaku moral.

Pertanyaannya bukan hanya
kita berpihak ke mana—

tetapi apakah kita masih mampu
melihat manusia
sebagai pusat dari semuanya.

Pada akhirnya,
peradaban tidak runtuh karena kekurangan kekuatan.

Ia runtuh
ketika kekuasaan lupa
untuk apa ia ada.

Bermula