Salat Muqarrabin di Era Gangguan Digital

6/15/20262 min read

Kita hidup di zaman yang aneh. Teknologi menjanjikan koneksi tanpa batas, tetapi banyak orang justru merasa semakin terputus—dari diri sendiri, dari sesama, bahkan dari Tuhan. Filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, pernah menulis bahwa manusia modern tidak lagi hidup dalam masyarakat disiplin, melainkan masyarakat kelelahan (the burnout society). Kita terus aktif, terus terhubung, terus bereaksi, tetapi semakin sulit hadir secara utuh pada apa yang sedang kita kerjakan.

Salah satu dampak paling nyata dari keadaan ini terlihat dalam salat. Tubuh berdiri menghadap kiblat, tetapi pikiran berkelana ke berbagai arah. Jari berhenti menyentuh layar, namun notifikasi-notifikasi seakan tetap berbunyi di dalam kepala. Padahal, salat yang khusyuk bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah jalan untuk menjalani hidup yang lebih otentik, lebih bermakna, dan bahkan lebih ceria. Dalam salat yang sungguh-sungguh hadir, manusia menemukan kembali pusat dirinya.

Di sinilah Salat Muqarrabin karya Imam Jufri menawarkan sesuatu yang sangat berharga. Buku ini tidak hanya membahas tata cara salat, tetapi mengajak pembaca menyelami pengalaman batin orang-orang yang dekat kepada Allah (muqarrabin). Ia dapat dibaca sebagai resep spiritual yang membantu kita memahami bagaimana salat dapat menjadi ruang perjumpaan, bukan sekadar rutinitas.

Namun, mengakses khazanah semacam ini tidak selalu mudah. Sumber-sumber aslinya banyak tersedia secara bebas, tetapi umumnya berbahasa Arab klasik dan tanpa syakal, sehingga tidak mudah dibaca oleh kebanyakan Muslim masa kini. Selain itu, karya-karya tersebut ditulis beberapa abad yang lalu, dalam konteks budaya dan bahasa yang berbeda. Tantangan lainnya, genre yang digunakan sering kali lebih menyerupai kesaksian pribadi seorang sufi atau arif tentang pengalaman salatnya daripada karya akademis yang sistematis. Kekayaan maknanya luar biasa, tetapi membutuhkan jembatan agar dapat dipahami pembaca modern.

Karena itu, Prayer in the Age of Distraction: A Classical Islamic Guide to Attention, Presence and Nearness to God hadir pada saat yang tepat. Buku ini berupaya menerjemahkan hikmah klasik tentang salat ke dalam bahasa abad ke-21, tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya. Di tengah banjir distraksi digital, ia mengingatkan kita bahwa perhatian adalah anugerah yang harus direbut kembali, dan salat adalah salah satu cara paling indah untuk melakukannya.

Barangkali, tantangan terbesar manusia modern bukanlah kurangnya informasi, melainkan hilangnya kehadiran. Dan mungkin pula, jalan pulang itu dimulai dari satu salat yang benar-benar kita jalani dengan hati yang hadir.

Untuk membantu pembaca masa kini memasuki dunia batin Salat Muqarrabin, buku Prayer in the Age of Distraction hadir sebagai jembatan antara khazanah klasik dan tantangan era digital.

Informasi buku: Prayer in the Age of Distraction: A Classical Islamic Guide to Attention, Presence and Nearness to God, tersedia melalui Amazon.

https://www.amazon.com/dp/B0H4VM6VM1

---

Bermula

---

Kontak

Hubungi kami untuk berdiskusi lebih dalam

Email

Telepon

halo@bermula.id

+628123456789

© 2025. All rights reserved.